KHULAFA’URASYIDIN AL-MAHDIYIN DAN KEUTAMAAN DI ANTARA MEREKA

Diposting oleh Ahsanul Huda Sabtu, 08 Mei 2010

Oleh: Ahsanul Huda

A.       Pendahuluan

Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar As-Shidiq kemudian Umar bin Khattab kemudian Utsman bin Affan kemudian Ali bin Abi Thalib. Mereka adalah para khalifah yang mendapat petunjuk, yang kekhalifahan mereka diberitakan oleh Nabi saw dengan sabdanya: "Kekhalifan sesudahku berlangsung selama tiga puluh tahun" Kemudian beliau menambahkan: Abu Bakar memegang pemerintahan selama 2 tahun, Umar 10 tahun, Utsman 12 tahun dan Ali 6 tahun.”[1]

Sesungguhnya Allah swt memilih Muhammad saw sebagai manusia terbaik dari mahkluqnya, dan memilihkanya sahabat dari sebaik-baik sahabat. Merekalah yang menemaninya dalam kesenagan dan kesusahan, dalam kesulitan dan kemudahan. Mereka menyaksikan wahyu dan bagaimana turunya. Sehingga Allah swt memuji mereka dari atas Arsy-Nya dengan berbagai firmanya, di antaranya adalah:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil” [2]

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9) وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (10)

“Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."[3]

Syaikhul Islam berkata: “Ayat ini adalah merupakan pujian Allah swt kepada kaum Anshar, kaum Muhajirin dan orang-orang yang datang setelah mereka, Allah mengampuni mereka dan mereka meminta kepada Allah agar hatinya tidak sombong. Ayat ini juga menjelaskan bahwa orang-orang yang seperti itulah yang berhaq atas harta fai’ (harta rampasan perang yang didapat tanpa pertempuran)”.[4]

Imam Ibnu Katsir berkata: “Alangkah indahnya apa yang telah disimpulkan oleh Imam Malik dari ayat ini, sesungguhnya orang-orang Rafidhah yang mencela sahabat tidaklah mendapatkan harta Fai’  karena mereka tidak memiliki sifat seperti mereka yang mana Allah memuji sifat-sifat mereka”.[5]

B.       Definisi Khulafa’urasyidin Al-Mahdiyin

Al-Khulafa’ adalah jama’ dari Khalifah yaitu seorang wali yang mengurusi perkara kaum Muslimin baik agamanya maupun dunianya setelah Rasulullah saw.

Ar-Raasyidun adalah jama’ dari Raasydun, adapun Rasyid adalah orang yang alim tentang agama Allah, alim terhadap apa yang diketahuinya. Adapun Ar-Rusydu adalah istiqamah terhadap jalan yang haq dan berpegang teguh denganya.[6]

Al-Mahdiyin adalah jama’ dari Mahdy yaitu yang diberi petunjuk oleh Allah swt kepada kebenaran, sehingga barangsiapa yang memberi petunjuk maka dia adalah Mahdy dan tidak ada petunjuk kecuali dengan hidayah Allah swt.

C.        Khulfa’urasyidin

a.    Abu Bakar ra.

Beliau adalah Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taimi bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’y bin Ghalib Al-Qursy, garis keturunanya bertemu dengan Rasulullah saw pada Murrah bin Ka’ab. Dilahirkan pada tahun kedua dari tahun gajah.[7]

Disebutkan, bahwa sebelum Islam ia bernama Abdul Ka'bah. Setelah masuk Islam oleh Rasulullah ia dipanggil Abdullah. Ada juga yang mengatakan bahwa tadinya ia bernama Atiq, karena dari pihak ibunya tak pernah ada anak laki-laki yang hidup. Lalu ibunya bernazar jika ia melahirkan anak laki-laki akan diberi nama Abdul Ka'bah dan akan disedekahkan kepada Ka'bah. Sesudah Abu Bakr hidup dan menjadi besar, ia diberi nama Atiq, seolah ia telah dibebaskan dari maut.

Tetapi sumber-sumber itu lebih jauh menyebutkan bahwa Atiq itu bukan namanya, melainkan suatu julukan karena warna kulitnya yang putih. Sumber yang lain lagi malah menyebutkan, bahwa ketika Aisyah putrinya ditanyai: mengapa Abu Bakr diberi nama Atiq ia menjawab: Rasulullah memandang kepadanya lalu katanya: Ini yang dibebaskan Allah dari neraka; atau karena suatu hari Abu Bakr datang bersama sahabat-sahabatnya lalu Rasulullah berkata: Barang siapa ingin melihat orang yang dibebaskan dari neraka lihatlah ini. Mengenai gelar Abu Bakr yang dibawanya dalam hidup sehari-hari sumber-sumber itu tidak menyebutkan alasannya, meskipun penulis-penulis kemudian ada yang menyimpulkan bahwa dijuluki begitu karena ia orang paling dini dalam Islam dibanding dengan yang lain.[8]

Beliau termasuk orang yang pertama kali beriman kepada risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw dari golongan dewasa, Khalifah untuk umatnya dan sebaik-baik manusia setelahnya, yang menemaninya ketika hijrah, mewakilinya menjadi imam ketika shalat (takkala Nabi sakit) dan haji, baliau adalah Amirul Mukimin, Di tangan Abu Bakarlah lima orang shahabat yang diberi kabar gembira dengan syurga , masuk Islam. Mereka adalah; Utsman, Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Abi Waqas. Bersama lima orang sahabat tersebut , Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah ra merupakan delapan orang yang pertama memeluk agama Islam.

Beliau menjadi Khalifah selama 2 tahun 3 bulan 9 malam, dari tanggal 13 Rabi’ul Awwal tahun 11 H sampai dengan 22 Jumadil Akhir tahun 13 H. Meninggal pada hari senin Jumadil  Ahir, tiga malam sebelum berakhirnya tahun 13 H, dalam usia 63 tahun setelah menderita sakit selama 15 hari, di makamkan di dekat kuburan Rasulullah saw, kemudian kekhilafanya di lanjutkan oleh Al-Faruq Umar bin Khattab.

Abu Bakar adalah sahabat yang paling utama dan yang terbaik di antara mereka, hal ini sebagaimana ijma salaf dan Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Di antara keutamaan beliau adalah:

Firman Allah swt:

ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ

“Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua”[9]

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”[10]

Sabda Rasulullaah saw:

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

"Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami orang-orang. Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami orang-orang. Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami orang-orang."[11]

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ فَكَلَّمَتْهُ فِي شَيْءٍ فَأَمَرَهَا أَنْ تَرْجِعَ إِلَيْهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتُ وَلَمْ أَجِدْكَ كَأَنَّهَا تُرِيدُ الْمَوْتَ قَالَ إِنْ لَمْ تَجِدِينِي فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ

“Dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im dari Ayahnya mengatakan, ada seorang wanita menemui Nabi saw dan mengajak beliau bicara tentang suatu hal. Lantas beliau menyuruh si wanita itu untuk menemuinya di kemudian hari. Si wanita menjawab; 'hai Rasulullah, bagaimana kalau aku datang namun tidak mendapatkanmu? sepertinya yang wanita maksudkan, jangan-jangan Nabi saw sudah meninggal Nabi menjawab "Jika kau tidak menemukan aku, datangilah Abu bakar." [12]

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ أَبَاكِ وَأَخَاكِ حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَقُولُ قَائِلٌ أَنَا أَوْلَى وَيَأْبَى اللَّهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ

“Dari Aisyah dia berkata; Pada suatu hari, ketika Rasulullah saw sakit, beliau berkata kepada saya: Panggillah Ayahmu Abu Bakr dan saudara laki-lakimu ke sini, agar aku buatkan sebuah surat (keputusan khalifah). Karena aku khawatir jika kelak ada orang yang ambisius dan berkata; Akulah yang lebih berhak menjadi khalifah. Sementara Allah dan kaum muslimin tidak menyetujuinya selain Abu Bakar.” [13]

Abu bakar adalah orang yang paling berhaq untuk menjadi khalifah Rasulullah saw karena keutamaan dan lebih dulu masuk islam serta Nabi saw lebih mengutamakan dia atas sahabat yang lain. Demikian juga para sahabat telah sepakat untuk membaiatnya, dan tidak mungkin Allah swt mengumpulkan mereka untuk sebuah kedzaliman.

Demikian juga karena ketinggian akan kedudukanya yaitu; Beliau menyaksikan segala kondisi yang menimpa umat islam, hijrah bersama Rasul saw, tetap teguh melanjutkan peperangan yaitu perang Uhud dan Hunain, banyak membebaskan budak, menjaga Rasulullah ketika perang Badar, sehingga barang siapa yang lebih mengutamakan yang lainya sebagai khalifah dan dalam keutamaan, maka sungguh dia telah menyimpang. Karena sungguh Rasulullah saw telah menashkan (mendeskripsikan) kekhalifahan beliau bahwa beliau adalah khalifah sepeninggal beliau.

b.    Umar bin Khattab

Beliau adalah Al-Faruq Abu Hafs Ibnu Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qard bin Razah bin ‘Ady bin Ka’ab bin Lu’y bin Ghalib Al-Qursy Al-Adawi, garis keturunanya bertemu dengan Rasulullah saw pada Ka’ab bin Lu’y. di lahirkan sekitar dua tahun sebelum Rasulullah saw di lahirkan.

Beliau masuk Islam pada tahun ke enam setelah kenabian, dengan didahului oleh empat puluh shahabat laki-laki dan sepuluh orang shahabat wanita setelah Rasulullah mendo’akanya. Dengan masuknya 'Umar bin Khathab kedalam agama Islam bersuka ria lah kaum muslimin dan nampaklah agama Islam di kota Madinah.

Beliau adalah Khalifah yang kedua, imam yang lurus setelah Abu Bakar dan orang yang pertama kali dijuluki dengan Amirul Mukminin. Beliau mengatikan Abu bakar setelah para sahabat bermusyarawah dan dengan kesepakatan Ahlu halli wal Aqdi.

Umar bin Khattab syahid setelah ditusuk secara licik oleh Abu Lu’luah, seorang Habsyi yang beragama Majusi, pada saat beliau sedang melakukan shalat fajar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah peristiwa penusukan itu beliau sakit selama tiga hari kemudian meninggal pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 23 H pada usia 63 tahun. Beliau dimakamkan di dekat kuburan temanya atas wasiatnya, setelah memerintah selama 10 tahun 6 bulan 5 hari, dari tanggal 23 Jumadil Akhir tahun 13 H sampai taggal 26 Dzulhijjah tahun 23 H.

Di antara keutamaan beliau adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيتُنِي دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِالرُّمَيْصَاءِ امْرَأَةِ أَبِي طَلْحَةَ وَسَمِعْتُ خَشْفَةً أَمَامِي قُلْتُ مَنْ هَذَا يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا بِلَالٌ قَالَ وَرَأَيْتُ قَصْرًا أَبْيَضَ بِفِنَائِهِ جَارِيَةٌ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالَتْ هَذَا لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَهُ فَأَنْظُرَ إِلَيْهِ فَذَكَرْتُ غَيْرَتَكَ فَقَالَ عُمَرُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَعَلَيْكَ أَغَارُ

“Telah bercerita kepada kami Suroij telah bercerita kepada kami Abdul Aziz yaitu Ibnu Abu Salamah dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bin Abdullah berkata; Rasulullah saw bersabda: "Saya bermimpi melihat diriku masuk surga. Lalu saya melihat Rumaisha istri Abu Thalhah. Dan saya mendengar suatu suara dari depanku, lalu saya bertanya siapakah itu Wahai jibril?. Dia menjawab, itu adalah Bilal." Rasulullah saw bersabda: "Lalu saya melihat sebuah istana putih dan di terasnya ada seorang gadis." (Rasulullah saw) bertanya, untuk siapa istana itu?. Dia menjawab, untuk 'Umar bin Khattab, lalu saya hendak memasukinya dan melihatnya.  Rasulullah saw bersabda: "Lalu saya ingat kecemburun 'Umar. Lalu 'Umar berkata; 'Demi bapak dan ibumu Wahai Rasulullah apakah saya akan cemburu kepadamu?."[14]

لَقَدْ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رِجَالٌ يُكَلَّمُونَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ فَإِنْ يَكُنْ مِنْ أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَعُمَرُ

"Sungguh telah ada pada orang-orang sebelum kalian dari kalangan Bani Isra'il mereka yang dianugerahkan pembicaraannya selalu benar padahal mereka bukanlah dari kalangan para Nabi. Dan seandainya ada pada umatku ini seorang dari mereka, maka tentu dia adalah 'Umar".[15]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي عَلَى قَلِيبٍ فَنَزَعْتُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ أَنْزِعَ ثُمَّ أَخَذَهَا ابْنُ أَبِي قُحَافَةَ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ وَفِي نَزْعِهِ ضَعْفٌ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ ثُمَّ أَخَذَهَا عُمَرُ فَاسْتَحَالَتْ غَرْبًا فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا مِنْ النَّاسِ يَفْرِي فَرِيَّهُ حَتَّى ضَرَبَ النَّاسُ حَوْلَهُ بِعَطَنٍ

“Dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah saw bersabda: "Ketika aku tidur, aku bermimpi di atas sebuah sumur, lantas aku menariknya sekehendak Allah aku menariknya, kemudian Ibnu Quhafah mengambilnya dan menarik satu atau dua ember, dalam tarikannya terlihat ada kelemahan, ini berarti mudah-mudahan Allah mengampuninya, kemudian 'Umar mengambilnya dan tiba-tiba embernya menjadi besar, maka ini berarti tidaklah aku melihat seseorang yang jenius di antara manusia yang bisa mereka-reka hingga manusia sekitarnya kenyang air dan juga ternak-ternaknya sehingga mereka bermukim di tempat mereka minum (selain Umar itu saja yang bisa melakukannya)”[16]

Umar Al-Faruq adalah umat Rasulullah saw yang terbaik setelah Abu Bakar, dan dia adalah Khalifatul muslimin setelahnya atas wasiat Abu Bakar, dan para sahabat sepakat akan hal itu.

c.     Utsman bin Affan

Beliau adalah Abu Abdullah Dzun Nurain Ibnu Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Dari Abdi Manaf inilah garis keturunanya bersambung dengan Rasulullah saw.

Utsman bin Affan masuk Islam jauh sebelum Rasulullah membentuk Darul Arqam, melaksanakan hijrah sebanyak dua kali, dinikahkan dengan dua putri Rasulullah saw yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum dan tidak ada orang yang dinikahkan oleh Rasulullah dengan dua putrinya selain Ustman bin Affan. Beliau orang yang kaya, dermawan, ahli puasa, bertanggung jawab, banyak membaca Al-Qur’an, murah hati dan  pemalu. Beliau menggantikan kekhilafahan Umar bin Khattab atas kesepakatan Ahlu Syura.

Beliau berkuasa selama 12 tahun 12 hari, dari tanggal 1 Muharram tahun 23 H sampai dengan tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H. Beliau dibunuh (syahid) setelah ashar pada hari jum’at.

Di antara keutamaan beliau adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw:

أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِي كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَوَّى ثِيَابَهُ قَالَ مُحَمَّدٌ وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ فَقَالَ أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ

'Aisyah berkata; 'Pada suatu ketika, Rasulullah saw sedang berbaring di rumah saya dengan membiarkan kedua pahanya atau kedua betisnya terbuka. Tak lama kemudian, Abu Bakar minta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap seperti itu dan terus berbincang-bincang (tentang suatu hal). Lalu Umar bin Khaththab datang dan meminta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap seperti itu dan terus berbincang-bincang (tentang suatu hal). Kemudian Utsman bin Affan datang dan meminta izin kepada beliau untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk seraya mengambil posisi duduk dan membetulkan pakaiannya. Muhammad berkata; Saya tidak mengatakan hal itu pada hari yang sama. Lalu Utsman masuk dan langsung bercakap-cakap dengan beliau tentang berbagai hal. Setelah Utsman keluar dari rumah, Aisyah bertanva; "Ya Rasulullah, tadi ketika Abu Bakar masuk ke rumah engkau tidak terlihat tergesa-gesa untuk menyambutnya. Kemudian ketika Umar datang dan masuk, engkaupun menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Akan tetapi ketika Utsman bin Affan datang dan masuk ke rumah maka engkau segera bangkit dari pembaringan dan langsung mengambil posisi duduk sambil membetulkan pakaian engkau. Sebenarnya ada apa dengan hal ini semua ya Rasulullah'?" Rasulullah saw menjawab: "Hai Aisyah, bagaimana mungkin aku tidak merasa malu kepada seseorang yang para malaikat saja merasa malu kepadanya?."[17]

عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ حَزْنٍ الْقُشَيْرِيِّ قَالَ شَهِدْتُ الدَّارَ يَوْمَ أُصِيبَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَاطَّلَعَ عَلَيْهِمْ اطِّلَاعَةً فَقَالَ ادْعُوا لِي صَاحِبَيْكُمْ اللَّذَيْنِ أَلَّبَاكُمْ عَلَيَّ فَدُعِيَا لَهُ فَقَالَ نَشَدْتُكُمَا اللَّهَ أَتَعْلَمَانِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ ضَاقَ الْمَسْجِدُ بِأَهْلِهِ فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِي هَذِهِ الْبُقْعَةَ مِنْ خَالِصِ مَالِهِ فَيَكُونَ فِيهَا كَالْمُسْلِمِينَ وَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ خَالِصِ مَالِي فَجَعَلْتُهَا بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَنْتُمْ تَمْنَعُونِي أَنْ أُصَلِّيَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ أَنْشُدُكُمْ اللَّهَ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ لَمْ يَكُنْ فِيهَا بِئْرٌ يُسْتَعْذَبُ مِنْهُ إِلَّا رُومَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَشْتَرِيهَا مِنْ خَالِصِ مَالِهِ فَيَكُونَ دَلْوُهُ فِيهَا كَدُلِيِّ الْمُسْلِمِينَ وَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ خَالِصِ مَالِي فَأَنْتُمْ تَمْنَعُونِي أَنْ أَشْرَبَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنِّي صَاحِبُ جَيْشِ الْعُسْرَةِ قَالُوا اللَّهُمَّ نَعَمْ

“Dari Tsumamah Bin Hazn Al Qusyairi dia berkata; aku hadir ditempat kejadian hari terbunuhnya Utsman, dia mengintip ke arah orang-orang, seraya berkata; "Panggilkan ke hadapanku dua sahabat kalian yang mengobarkan (perlawanan) kepadaku!" Kemudian keduanya dipanggil, dan Utsman berkata; "Aku bersumpah dengan nama Allah kepada kalian, apakah kalian berdua tahu ketika Rasulullah saw tiba di Madinah dan kondisi masjid sempit (tidak mampu lagi menampung) orang, kemudian beliau bertanya: "Siapakah yang mau membeli tanah ini dengan uangnya sendiri kemudian diserahkan menjadi milik kaum muslimin, maka baginya lebih baik darinya di Syurga?" Dan aku membelinya dengan murni uangku sendiri, lalu aku berikan kepada kaum muslimin, kemudian kalian melarangku melaksanakan Shalat dua raka'at di dalamnya, " kemudian Utsman berkata "Aku bersumpah dengan nama Allah kepada kalian, apakah kalian tahu ketika Rasulullah saw tiba di Madinah dan di sana belum ada sumur yang air tawarnya bisa diambil kecuali sumur rumah, kemudian Rasulullah saw bertanya: "Siapakah yang mau membelinya dengan uang murni miliknya sendiri, kemudian ember miliknya sama seperti ember yang dimiliki kaum muslimin, maka baginya lebih baik darinya berupa Syurga?" Dan aku membelinya dengan murni uangku sendiri, kemudian kalian melarangku meminum air darinya." Kemudian dia berkata lagi; "Apakah kalian tahu bahwa aku adalah termasuk salah satu pasukan Jaisyul Usroh?" Mereka menjawab; "Ya."[18]

Utsman bin Affan adalah sebaik-baik umat setelah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, dan dia adalah Khalifatul Muslimin setelah mereka berdua karena kesepakatan ahlu syura dan  dan kaum Muslimin. Barang siapa yang lebih mengutamakan yang lainya maka sungguh ia telah menyimpang. Adapun orang yang pertama kali membaiatnya adalah Abdurrahman bin Auf kemudian Ali bin Abi Thalib kemudian Ahlu Syura kemudian kaum Muhajirin dan setelah itu kaum Anshar. Sebagaiaman dalam hadits, kisah dibaiatnya Utsman.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَنَّ حُمَيْدَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَهُ أَنَّ الْمِسْوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ الرَّهْطَ الَّذِينَ وَلَّاهُمْ عُمَرُ اجْتَمَعُوا فَتَشَاوَرُوا فَقَالَ لَهُمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَسْتُ بِالَّذِي أُنَافِسُكُمْ عَلَى هَذَا الْأَمْرِ وَلَكِنَّكُمْ إِنْ شِئْتُمْ اخْتَرْتُ لَكُمْ مِنْكُمْ فَجَعَلُوا ذَلِكَ إِلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَلَمَّا وَلَّوْا عَبْدَ الرَّحْمَنِ أَمْرَهُمْ فَمَالَ النَّاسُ عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَتَّى مَا أَرَى أَحَدًا مِنْ النَّاسِ يَتْبَعُ أُولَئِكَ الرَّهْطَ وَلَا يَطَأُ عَقِبَهُ وَمَالَ النَّاسُ عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ يُشَاوِرُونَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي حَتَّى إِذَا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَصْبَحْنَا مِنْهَا فَبَايَعْنَا عُثْمَانَ قَالَ الْمِسْوَرُ طَرَقَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بَعْدَ هَجْعٍ مِنْ اللَّيْلِ فَضَرَبَ الْبَابَ حَتَّى اسْتَيْقَظْتُ فَقَالَ أَرَاكَ نَائِمًا فَوَاللَّهِ مَا اكْتَحَلْتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ بِكَبِيرِ نَوْمٍ انْطَلِقْ فَادْعُ الزُّبَيْرَ وَسَعْدًا فَدَعَوْتُهُمَا لَهُ فَشَاوَرَهُمَا ثُمَّ دَعَانِي فَقَالَ ادْعُ لِي عَلِيًّا فَدَعَوْتُهُ فَنَاجَاهُ حَتَّى ابْهَارَّ اللَّيْلُ ثُمَّ قَامَ عَلِيٌّ مِنْ عِنْدِهِ وَهُوَ عَلَى طَمَعٍ وَقَدْ كَانَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَخْشَى مِنْ عَلِيٍّ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِي عُثْمَانَ فَدَعَوْتُهُ فَنَاجَاهُ حَتَّى فَرَّقَ بَيْنَهُمَا الْمُؤَذِّنُ بِالصُّبْحِ فَلَمَّا صَلَّى لِلنَّاسِ الصُّبْحَ وَاجْتَمَعَ أُولَئِكَ الرَّهْطُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ فَأَرْسَلَ إِلَى مَنْ كَانَ حَاضِرًا مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَأَرْسَلَ إِلَى أُمَرَاءِ الْأَجْنَادِ وَكَانُوا وَافَوْا تِلْكَ الْحَجَّةَ مَعَ عُمَرَ فَلَمَّا اجْتَمَعُوا تَشَهَّدَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ يَا عَلِيُّ إِنِّي قَدْ نَظَرْتُ فِي أَمْرِ النَّاسِ فَلَمْ أَرَهُمْ يَعْدِلُونَ بِعُثْمَانَ فَلَا تَجْعَلَنَّ عَلَى نَفْسِكَ سَبِيلًا فَقَالَ أُبَايِعُكَ عَلَى سُنَّةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْخَلِيفَتَيْنِ مِنْ بَعْدِهِ فَبَايَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَبَايَعَهُ النَّاسُ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ وَأُمَرَاءُ الْأَجْنَادِ وَالْمُسْلِمُونَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma`, telah menceritakan kepada kami Juwairiyah dari Malik dari Az Zuhri, bahwa Humaid bin Abdurrahman mengabarinya, bahwa Miswar bin Makhramah mengabarinya; beberapa orang yang diserahi Umar untuk memegang mandat berkumpul dan bermusyawarah. Abdurrahman berkata kepada mereka; 'aku bukan bermaksud menyaingi kalian dalam masalah ini, namun jika kalian berkenan saya akan memilih (seorang pemimpin) untuk kalian dari kalian sendiri, ' maka mereka limpahkan wewenang itu kepada Abdurrahman. Ketika mereka sudah menguasakan urusannya kepada Abdurrahman, dan orang-orang menjadi simpati kepada Abdurrahman sehingga aku tidak melihat seorang pun mengikuti yang lain, dan tidak pula melangkahi kebijakan Abdurrahman, dan semua manusia sudah simpati kepada Abdurrahman, mereka memusyawarahkan kekuasaan itu beberapa malam, hingga setelah tiba malam yang pagi harinya kami berbaiat kepada Ustman. Miswar melanjutkan; Abdurrahman mengetukku setelah malam kian larut, ia mengetuk pintu hingga aku bangun, dan ia mengatakan; 'Kulihat dirimu tidur? Demi Allah, malam ini aku tidak bisa tidur nyenyak, tolong bertolaklah dan panggilah Zubair dan Sa'd, ' maka aku memanggil keduanya agar bertemu Abdurrahman, Abdurrahman kemudian mengajak keduanya bermusyawarah, kemudian ia memanggilku lagi dan berujar; 'Tolong panggillah Ali agar menemuiku! ' serta merta aku memanggilnya, dan Abdurrahman melakukan pertemuan empat mata dengannya hingga muadzin subuh memisahkan pertemuannya. Tatkala dia selesai shalat subuh, dan beberapa pemuka itu telah berkumpul di minbar, Abdurrahman mengutus utusan kepada hadirin dari muhajirin dan anshar, juga kepada para petinggi militer, yang ketika itu mereka bersama-sama haji bersama Umar. Dikala mereka telah berkumpul, Abdurrahman menyatakan kesaksian dan berujar; 'Amma ba'd. Wahai Ali, saya telah mencermati masalah manusia, dan tak kulihat mereka berpaling dari Ustman, maka janganlah engkau mencari-cari alasan terhadap dirimu.' Abdurrahman kemudian mengucapkan; 'Saya berbai'at kepadamu diatas sunnatullah dan sunnah rasul-Nya serta dua khalifah sepeninggalnya.' Selanjutnya Abdurrahman berbaiat kepadanya yang diikuti sahabat muhajirin dan anshar, para pejabat tinggi militer dan muslimin secara umum.[19]

عَن ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُمَا قَالَ كُنَّا نُخَيِّرُ بَينَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكرٍ ثُمَّ عُمَرَ بنَ الخَطَّابِ ثُمَّ عُثمَانَ بنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُم

Dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhu berkata; "Kami memilih-milih orang terbaik diantara manusia pada zaman Nabi saw. Akhirnya yang terpilih adalah Abu Bakr kemudian 'Umar bin Al Khaththab lalu 'Utsman bin 'Affan radliallahu 'anhum".[20]

Tidak ada perbedaan pendapat di antara para sahabat dan Tabi’in akan kekhalifahan Utsman. Perbedaan di antara mereka hanya terjadi dalam masalah mana yang lebih utama antara Utsman dengan Ali ra. Dalam hal ini ada tiga pendapat:

Pertama: Jumhur sahabat dan tabi’in, mereka lebih mengutamakan Utsman bin Affan atas Ali bin Abi Thalib.

Kedua: Ahli Kuffah, mereka lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Utsman bin Affan.

Ketiga: Ahlu Madinah, mereka bersifat tawaquf dalam hal ini.

Imam Syafi’i berkata: “Tidak satu pun di antara para sahabat dan Tabi’in yang berselisih pendapat tentang keutamaan Abu Bakar ra atas Umar bin Khattab ra, akan tetapi perbedaan terjadi dalam menentukan mana yang lebih utama antara Utsman ra dengan Ali ra.

Oleh karena itu Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak mengatakan orang yang lebih mengutamakan Ali ra atas Utsman ra itu menyimpang, akan tetapi dikatakan menyimpang mana kala lebih mengutamakan Ali ra atas Abu Bakar ra dan Umar ra.

Dari berbagai perbedaan pendapat tersebut maka Ahlu Sunnah menetapkan lebih mengutamakan Utsman ra atas Ali ra, dan bersepakat bahwa urutan keutamaan mereka sebagaimana urutan di dalam kekhalifahan.[21]

Sehingga barangsiapa yang mengklaim dan menyakini akan kebathilan kekhalifahan Utsman dan mengtakan Ali lebih berhaq untuk menjadi khalifah di bandingkan dengan Utsman maka dia adalah Mubtad’i yang dzalim (Rafidhun Khabitsun).

d.    Ali bin Abi Thalib

Beliau adalah Abu Hasan Ibnu Abi Thalib, dan Abu Thalib adalah Abdul Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim, anak paman Rasulullah saw.

Beliau adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan anak-anak, menikah dengan seorang wanita Ahlu Jannah (Fatimah), Abu Sibtiin yaitu Hasan dan Husain cucu Rasulullah saw, beliaulah yang di beri bendera oleh Rasulullah pada perang Badar sehingga dari tangan beliaulah Allah swt memberi kemenangan bagi kaum Muslimin. Beliau adalah seorang ulama yang Rabbaniyin dan pemberani, termasuk salah satu orang yang berjasa dalam pembukuan Al-Qur’an. Beliau di baiat menjadi Khalifah sepeninggal Utsman bin Affan.

Ali bin Thalib dibunuh (syahid) oleh Ibnu Muljzam Al-Khariji ketika shalat fajar. Wafat pada malam ahad 11 hari sebelum bulan Ramadhan habis tahun 40 H dalam usia 63 tahun. Dikuburkan di Darul Imarah (Kufah), bukan di kota Najaf sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Syi’ah.

Adapun beliua menjabat sebagai Khalifah selama 4 tahun 9 bulan kurang dua malam yaitu dari tanggal 19 Dzulhijjah tahun 35 H sampai dengan tanggal 19 Ramadhan tahun 40 H.

Diantara keutamaan Ali ra adalah sebagaiamana sabda Rasulullah saw:

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Dari 'Amir bin Sa'ad bin Abu Waqqash dari Bapaknya dia berkata; Rasulullah saw bersabda kepada Ali: "Kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya tidak ada nabi setelahku.”[22]

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ

“Dari Nabi saw bersabda; "Sekiranya aku menjadikan seorang wali (penolong), maka Ali adalah walinya." [23]

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa menjadikan Ali sebagai wali (penolong) adalah wajib bagi setiap Muslim, sebagaimana wajib bagi orang-orang Muslim mengambil wali sepertinya dari orang-orang mukmin”.[24]

عَنْ زِرٍّ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيَّ أَنْ لَا يُحِبَّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضَنِي إِلَّا مُنَافِقٌ

"Dari Zirr dia berkata, Ali berkata, "Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan membebaskan jiwa, sesungguhnya perjanjian Nabi yang ummi (tidak bisa membaca) kepadaku adalah 'Tidaklah orang yang mencintaiku melainkan dia seorang mukmin dan tidaklah membenciku melainkan seorang munafik." [25]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيٌّ مِنِّي وَأَنَا مِنْ عَلِيٍّ وَلَا يُؤَدِّي عَنِّي إِلَّا أَنَا أَوْ عَلِيٌّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

Rasulullah saw bersabda: "Ali adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian darinya, dan tidak ada yang menunaikan kewajibanku kecuali aku sendiri atau Ali." [26]

D.      Penutup


          Alhamdulillah dengan izin Allah makalah ini bisa kami selesaikan. Semoga menjadi amal shalih bagi penulis dan tambahan ilmu bagi yang membaca. Hanya saran dan perbaikanlah yang kami harapkan dari kaum muslimin sekalian.

E.       Daftar Pustaka


1.         Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah, (Al-Maktabah Al-Arabiyah As-Su’udiyah, 1406 H/ 1986 M), cet. Ke-1.

2.         Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, Ibnu Katsir, (Riyadh: Maktabah Dar As-Salam, 1418 H/ 1998 M), cet. Ke-2.

3.         Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, Abdul Wahab An-Najar, (Dar Al-Fikr).

4.         Tarikh Al-khulafa’, Abdurrahman bin Abi Bakr As-Suyuti, (Mesir: 1371 H/ 1952 M), cet. Ke-1. (Maktabah Syamilah)

5.         Al-Intishar Bisyarh Aqidah Aimmati Al-Amshar, Abu Zur’ah Ar-Razi, Abu Hatim Ar-Razi, (Dar Al-Atsriyah).

6.         Al-Mu’jamul Wasith, Ibrahim Musthafa, at al., (Istambul: Al-maktabah Al-Islamiyah)







[1] Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan lainnya, dihasankan oleh Ibnu Abi 'Ashim.

[2] QS. Al-Fath: 29

[3] QS. Al-Hasyr: 9-10

[4] Ibnu Taimiyyah, Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah, (Al-Maktabah Al-Arabiyah As-Su’udiyah, 1406 H/ 1986 M), cet. Ke-1, juz 2, hal. 18.

[5] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, (Riyadh: Maktabah Dar As-Salam, 1418 H/ 1998 M), cet. Ke-2, hal. 435.

[6] Ibrahim Musthafa, at al., Al-Mu’jamul Wasith, (Istambul: Al-maktabah Al-Islamiyah), hal.346

[7] Abdul Wahab An-Najar, Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, (Dar Al-Fikr), hal. 34.

[8] Abdurrahman bin Abi Bakr As-Suyuti, Tarikh Al-khulafa’, (Mesir: 1371 H/ 1952 M), cet. Ke-1, hal. 32. (Maktabah Syamilah)

[9]  QS. At-Taubah: 40

[10] QS. Az-Zumar: 33

[11] HR. Bukhari

[12] HR. Bukhari

[13] HR. Muslim

[14] Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dengan sanad hasan

[15] HR. Bukhari dan Muslim

[16] HR. Bukhari dan Muslim

[17] HR. Muslim

[18] Dikeluarkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, dihasankan oleh Bukhari dan Muslim.

[19]  HR. Bukhari

[20]  HR. Bukhari

[21] Abu Zur’ah Ar-Razi, Abu Hatim Ar-Razi, Al-Intishar BiSyarh Aqidah Aimmati Al-Amshar, (Dar Al-Atsriyah), hal. 149.

[22] HR. Muslim

[23] HR. Tirmidzi

[24] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, juz 7, hal. 27.

[25] HR. Muslim

[26] HR. Tirmidzi, Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib."

0 komentar

Posting Komentar